Hedonic treadmill




Hedonic treadmill pas buat menjelaskan sifat manusia yang tidak pernah merasakan puas. Dulu membuat target untuk punya rumah. Setelah dapet rumah dan mendapatkan kesenangan, tapi ternyata kesenangan itu cuma mampir SEBENTAR. Dulu pernah punya target punya tv 4K 55 inchi, setelah dapet perasaan jadi bahagia banget, tapi bahagia akibat punya tv itu juga cuma SEBENTAR. Dulu pengen punya mobil mewah, pas punya seneng banget, tak lama jadi merasa biasa. Dulu pernah masang tujuan buat dapat nominal tabungan 200 juta, setelah tercapai tujuan tersebut perasaan gembira luar biasa pun datang. Tapi gembiranya itupun SEBENTAR saja, ga pake lama.


Setelah tercapai tujuan materialistis tersebut, maka kita beradaptasi terhadap keadaan baru itu sehingga ia menjadi keadaan normal. Di situasi normal ini perasaan senang, happy, excited karena tercapainya target tadi  berangsur HILANG. Bertahun-tahun kita menunggu punya mobil idaman, tapi ketika mobil idaman berhasil diperoleh, setiap hari dipakai, setiap hari disimpan di garasi, di satu titik kita akan merasakan ga ada perasaan bahagia seperti waktu pertama kali kita beli.


Oleh karena itu, hedonic treadmill bisa menjelaskan kenapa orang kaya itu belum tentu bahagia dengan semua harta yang dimilikinya. Orang kaya merasa bosan dengan segala barang mewah yg dia punya.

Hedonic treadmill menjelaskan kenapa manusia meski sudah kaya tapi dia terus mencari cara agar bisa bahagia (menurut versinya). Selalu berganti mobil, beli properti, nambah perusahaan, beli pakaian dan perhiasan, mengejar jabatan tapi tak kunjung hasratnya terpuaskan. Bahkan sebagian dengan menerjang hal-hal yang dilarang seperti mengkonsumsi narkoba, berganti-ganti pasangan seks, korupsi, dll.

Bahagia itu bisa diperoleh sekarang dengan banyak bersyukur dengan apa yg kita punya.

“Kekayaan (yang hakiki) bukanlah dengan banyaknya harta. Namun kekayaan (yang hakiki) adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Bagaimana caranya bersyukur?

“Pandanglah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah harta dan rupa) dan janganlah engkau pandang orang yang berada di atasmu (dalam masalah ini). Dengan demikian, hal itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah padamu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

By Arief Husein ( dengan pengeditan)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengobati Scabies Tertular dari Peliharaan

Menghilangkan Nyeri Luka Bakar